Nurhadi, lahir di kota Blitar tercinta 64 tahun yang lalu. Yaps di 2 september 1953 si mbok begitu sapaan akrab mbah kami tercinta yg bernama mbah Surati melahirkan abah. Dapat cerita dr abah, abah lahir dr keluarga yang kurang mampu dan Kelahirannya pun penuh dengan drama. Waktu itu si mbok jualan sayuran di pasar, sedangkan mbahkung Malik ayahannya bekerja di Surabaya sebagai tukang batu akik. Di subuh itu dagangan belum ada satupun yang laku, titiba perutnya terasa sakit, sehingga akhirnya si mbok pulang, sesampai dirumah di plosokerep dibantu oleh salah satu dukun terlahir lah sosok anak tangguh bernama Nurhadi..
Kisah hidup abah mulai dr kecil penuh dengan lika-liku, mempunyai 4 saudara abah di besarkan dengan keadaan yg serba pas, bahkan sampai kurang. Si mbok dan mbahkung yg bekerja dipasar yang kadang juga 'nyambi' sebagai buruh tani, maupun tukang akik harus fight menghidupi ke empat anaknya. Di umur 6 tahun beliau akhirnya di rawat oleh adik mbakung yang bernama mak amarah di plosokerep. Hal itu dilakukan untuk meringankan beban si mbok dan mbahkung kala itu.
Tak bisa dipungkiri, Nurhadi remaja tumbuh sebagai pribadi yang mandiri. Kepiawaiannya menggambar dan ketekunannya dalam bekerja beliau gunakan untuk mencari uang guna membantu orang tuanya. Kemandirian dan wajah gantengnya pun membuat ibu saya takhluk dibuatnya.
Bertemu jodoh di usia muda
Lelah berkelana di usia remaja, di umurnya yg masih terbilang muda abah dipertemukan dengan pujaan hatinya. Saat itu ibuk bekerja di salah satu penjahit. Setiap kali berangkat bekerja ibuk selalu melewati jalan dekat rumah abah. Kecantikan ibu memang tiada tara, mbahkung keturunan belanda dan mbah ti keturunan cina membius hati abah. Mungkin kala itu jurus gombal abah atau trennya sekarang 'di speak' membuat ibuk terkinthil-kinthil sama abah. Abah yang kala itu berusia 22 tahun memberanikan diri untuk meminang ibuk, dan di tahun 75 'sah' lah mereka sebagi pasangan suami istri.
Cinta mati dengan Asmara
Asmara. Ada cerita dibalik asmara. Semua ke empat anaknya terdapat nama asmara, menurut cerita ibuk, abah itu orangnya romantis dan puitis, mungkin itu juga yang akhirnya semua anaknya terdapat nama asmara. Ke empat anak abah perempuan dan semua nama abah sendirk yang berikan nama. Di Agustus tahun 76 lahirlah anak perempuan pertama yang diberi nama Gusmis Asmaraning Jati. Arti namanya pun sangat simple karena Mbak Mara (nama panggilannya) lahir di bulan agustus hari kamis dan waktu itu abah bekerja jadi tukang kayu jati, jadinya nama Gusmis Asmaraning Jati.
Dua tahun berikutnya di bulan april tahun 78 lahirlah anak kedua. Banyak peristiwa di balik kehamilan Mbak Aan ini. Salah satunya adalah ketika disebelah rumah yang sekarang di jadikan musholla dulu tempatnya judi, prostitusi bahkan konon katanya dukun juga, disitu si abah banyak berseberangan dengan yang punya rumah, dan alhamdulillah Allah masih sayang abah sehingga peristiwa itu terlewati dengan baik. Dan sampai akhirnya anak keduanya di beri nama Pristi Ani Asmara.
Di november tahun 80 terlahir lagi anak ketiga abah yaitu mbak Rani. Nama lengkapnya Dyah Rani Asmara, Dyah adalah yang terhormat sedangkan Rani adalah Ratu, di tahun ini adalah puncak keberhasilan usaha abah setelah berkeluarga, usah mebel abah berhasil, sehingga bisa nurutin apa yang diminta anak dan istrinya, bahkan untuk selamatan kelahiran mbak rani uangnya sampai sisa-sisa. Di tahun 80n ini merupakan tahun karir abah ibuk, tapi juga jamannya berjuang untuk abah. Setelah mengikuti KPG (Kursus Pendidikan Guru) ibuk diangkat menjadi Guru PNS, namun karena jaman dahulu masih ngikut propinsi ibukpun kebagian tugas di Madura, abahpun merelakan ibuk kerja di Madura. Dengan segala konsekuensi harus LDRn nih sama ibuk. Dari cerita abah ketika ibuk tugas dinas di Madura setiap hari sebelum subuh abah sudah bangun untuk menyiapkan keperluan ketiga anaknya. Semua keperluan rumah tangga abah sendiri yang mengerjakan, mulai dari masak, cuci baju, setrika, sampai mandi anaknya pun abah sendiri tanpa bantuan. Pagi sebelum si mbak-mbak saya berangkat sekolah dan abah berangkat bekerja semua harus beres, anak kenyang sudah sarapan, abahpun ninggal kerja dengan tenang. Karena ga ada ibuk, mbak rani di titipin di si mbok, sedangkan mbak aan dan mbak mara dan mbak aan di mbah ti (ibuk dari ibuk saya) ketika abah kerja. Setiap akhir pekan jika ibuk saya ga pulang abah yang datang ke Madura untuk jenguk ibuk. Dan pulang pun penuh dengan sandiwara karena anaknya masih kangen ibuk dan mungkin abah juga.. Hihihii..
Sampai dengan tahun berikutnya dan berikutnya ibuk pun masih berharap bisa pindah ke Blitar lagi. Perjuangan doa dan usaha pun abah dan ibuk lakukan. Antara tahun 86/87 ibuk terus berjuang untuk itu. Ditahun itu pula ibuk hamil saya. Yaps jaraknya terlalu jauh ya dengan mbak rani, katanya sih kebobolan. Saking kangennya kali ya sampe akhirnya jadi lagi. Hihihiii.. Di hamil besar ibuk dibantu abah harus bolak balik madura blitar, bahkan sempat pingsan di dalam bis karena kecapean. Usaha pun tak sia-sia, akhirnya SK ibuk turun dan pindahlah di Kota Blitar. Sesaat setelah itu lahirlah bayi kecil mungil nan cantik jelita tiada tara yang diberi nama Citra Juang Asmara. Yaps kata abah nama juang karena perjuangan ibuk dan abah waktu itu sangat besar sampai pada akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya.
Selera musik yang kece
Yang selalu inget waktu kecil adalah abah selalu dengerin musik keras-keras untuk didengarkan bareng. Yang paling saya inget adalah lagu abba, sampai sekarang pun sangat suka lagu-lagu abba, kalo kangen abah pasti dengerin lagi ini. Beberapa yang saya tau abah suka beberapa lagu barat yaitu bee gees, the Beatles, scorpion, the pussy cat, the Cat. Pernah saya tanya, kenapa bah ga suka dangdut, trus katanya abah karena dulu musik dangdut itu penyanyinya 'megal megol ga jelas', norak, trus yang joget orang mabuk-mabuk gitu.
Selalu di tuakan
Dikeluarga dari ibuk, abah itu mantu pertama, jadi mbahkung mbah ti ya apa-apa abah. Di kluarga si mbokpun abah juga anak laki-laki 'mbarep'. Jadi mulai urusan nikahan tante bulek, nikahan anak tante bulek, bahkan sampe nyunat keponakan sampai putu-putunya ya abah yang di pasrahi.
Abah merupan salah satu sosok yang dituakan di lingkungan terutama masalah agama. Musholla sebelah rumah merupakan titik balik membaiknya ajaran agama di lingkungan kampung. Abah mulai mengajar ngaji di kampung taun 78, beberapa tetangga menitipkan anaknya untuk ngaji dirumah abah. Dari tahun ke tahun muridnya mengaji semakin banyak. Sampai pada akhirnya di tahun 91 abah geser di rumah sebelah barat hingga rumah yang timur dijadikan tempat untuk solat berjamaah dan mengaji. Karena ga begitu besar solat taraweh pun 'nunut' dirumah tetangga yang lebih besar.
Perjuangan masih panjang, di saat itu abah 'mbina' para tetangga untuk terus beribadah. Ga hanya anak-anak, tapi juga para sesepuh. Sampai pada akhirnya 'mereka' berjuang membangun musholla disebelah rumah. Berkat dukungan banyak pihak akhirnya berdirilah musholla yang di beri nama Al-Fattah, dan sampai skarang menjadi musholla satu-satunya yang ada di kampung kami.
Kisah lainnya pun datang dari kampung sebelah, di tahun 90n pula abah 'mbabat alas'. Dikampung sebelah abah ngajar ngaji, membentuk sebuah perkumpulan pengajian, sampai membantu pembuatan musholla yang di beri nama An-Nur, yang menurut cerita nama itu diberikan karena wujud terima kasih warga kepada abah (Nurhadi). Yang menjadi impian abah adalah haji, di tahun 2010 alhamdulillah Allah memanggilnya ke tanah suci bersma ibuk.
Family Man
Entah bagaimana pasang surut pernikahan ibuk dan abah, tapi saya ga pernah tau bagaimana mereka bertengkar. Yang saya tau mereka berdua selalu menjadi pengayom untuk anak-anak nya. Abah selalu membebaskan anaknya dalam menentukan pilihan dalam hal apapun. Mulai memilih perguruan tinggi, pekerjaan sampai dengan jodoh. Abah adalah cinta pertama saya. Dulu waktu kecil saya selalu memimpikan punya suami seperti abah. Dan alhamdulillah 'nyrempet' meskipun ga banyak. Abah dan suami saya mempunya neton yang sama, golongan darahnya sama, kulitnya (yang hitam) juga sama.. Hahahaa.. Bahkan kerasnya dalam membimbing keluarganya pun sama. Saya menyebut mereka berdua family man karena ga bisa jauh dari anak istrinya, dan ga pernah tega anaknya kesakitan. Abah selalu nervous setiap kali anaknya melahirkan.
Kata abah waktu bayi saya ga bisa jauh dari abah, stiap kali tidur harus sama abah, jikalau abah keluar kota ibuk selalu nylimutin saya pake sarung yang bauk keringat abah.
Ketika ibuk pergi
Ibuk merupakan penguat keluarga kami. Kata ibuk abah itu ngalem. Abah ga bisa ditinggal lama ketika ibuk harus keluar kota, atau sekedar menjenguk cucunya yang ga tinggal di Blitar. Pasti bingung bagaimana maemnya, siapa yang nyiapin ini itu sampai membuat kopi menjadi pikiran ibuk. Yaps sampai 'ngiling' kopi pun ya harus ibuk. Mereka begitu setia saling menemani. Abah pun setia menemani i ibuk ketika ibuk sedang sakit, menjadi penyemangat ketika ibuk tiba-tiba down. Dan pada akhirnya ibuk harus meninggalkan cinta sejati nya di tahun 2015 lalu.
Marah!
Setelah ibuk pindah ke blitar setelah tugas dinas dari madura membuat ibuk benar-benar mengabdikan hidupnya untuk 'ngopeni' abah. Hal ini membuat abah pada akhirnya menjadi tergantung dengan ibuk. Sampai akhirnya beliau kaget ketika ibuk pergi. Abah bingung ketika 'kaki' satunya hilang. Meskipun ada mbak yang bersebelahan rumah, tapi ga bisa menggantikan sosok pendamping yang selalu setia menemani dan menyiapkan apapun yang diperlukan. Sesaat setelah 100 hari ibuk tetiba abah mengenalkan kami pada sosok perempuan pilihannya untuk menggantikan ibuk. Yaps saya kaget dan marah sekali didalan hati, mbak-mbak saya pun juga begitu. Karena ga mudah menerima sosok baru pengganti ibuk. Sampai pada akhirnya abah memutuskan untuk menikah membuat saya semakin down dan saya merasa terhianati atas cinta sejati mereka berdua. Pertentangan pun datang dari banyak pihak, mulai dari lingkungan keluarga sampai lingkungan sekitar abah tinggal karena memang jaraknya terlalu dekat. Tapi saat itu suami dan mbak mara datang memberi pengertian kepada saya, mereka berdua memberikan pengertian kepada saya secara logis tentang keputusan abah, karena memang benar bahwa sebenernya tidak ada yang dihianati. Alhamdulillah sampai saat ini beliau (istri abah) bisa menjaga amanah untuk 'ngopeni' abah saya dengan baik.
Di usianya yang sudah menginjak 64 taun abah yang mempunyai hobi membaca ini masih dengan kegiatannya yaitu bertani dan melihat kebahagiaan ke 6 cucunya. Sebenarnya sangat banyak cerita yang tak terceritakan di sini. Tapi apalah tangan saya sudah mulai lelah karena ngetiknya blog ini dari hp. Sehat terus ya bah, selalu menjadi inspirasi semua orang, menjadi panutan banyak orang terutama anak-anak mu, maafkan anakmu yang belum bisa membahagiakanmu. luvyuu to the moon and back, love, love, n love.. Selamat ulang tahun bah..
Dari aku yang selalu merindukanmu, pengen nangis karena hampir setahun ga ketemu abah..
Citra
Malang, 2 september 2017 00:51







kisah yang sangat bagus lho..
BalasHapus